Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tidur

Posted on Updated on


Sejumlah faktor mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur.  Faktor psikologis, fisiologis dan lingkungan dapt mengubah kualitas dan kuantitas tidur.

  • Penyakit fisik

Setiap penyakit yang mengakibatkan nyeri, ketidaknyamanan fisik (seperti kesulitan bernafas), atau masalah suasana hati seperti kecemasan atau depresi, dapat menyebabkan masalah tidur.  Penyakit juga dapat memaksa klien untuk tidur dalam posisi tidak biasa.  Sebagai contoh, posisi yang aneh saat lengan diimobilisasi pada traksi dapat mengganggu tidur.

Penyakit pernafasan seringkali mempengaruhi tidur.  Klien yang berpenyakit paru kronik seperti emfisema dengan nafas pendek dan seringkali tidak dapat tidurtanpa dua atau tiga bantal untuk meninggikan kepala mereka.  Asma, bronkhitis, dan rinitis alergi mengubah irama pernafasan mereka dan hal itu mengganggu tidur.  Seorang yang pilek mengalami kongesti nasal, drainase sinus, dan sakit tenggorokan, yang mengganggu pernafasan dan kemampuan beristirahat.

Penyakit jantung koroner sering dikarakteristikkan dengan episode nyeri dada yang tiba-tibadan denyut jantung yang tidak teratur.  Klien yang berpenyakit ini seringkali mengalami frekuensi terbangun yang sering dan perubahan tahapan selama tidur (misalnya sering berpindah dari tahap 3 & 4 ke tahap tidur 2 yang dangkal).

Hipertensi sering menyebabkan terbangun pada pagi hari dan kelemahan.  Hipotoroidisme mengurangi tidur tahap 4, sebaliknya hipertiroidisme menyebabkan seseorang membutuhkan waktu banyak untuk tertidur.

Nokturia (berkemih pada malam hari) mengganggu tidur dan siklus tidur.  Kondisi ini umum pada lansia dengan penurunan tonus kandung kemih atau orang yang memiliki penyakit jantung, diabetes, uretritis atau penyakit prostat.  Setelah seseorang berulangkali terbangun untuk berkemih, menyebabkan kembali untuk tertidur lagi menjadi sulit.

Seseorang yang berpenyakit tukak peptik seringkali terbangun pada tengah malam.  Kadar asam lambung mencapai puncak sekitar pukul 1 sampai 3 dini hari, menyebabkan nyeri lambung.

  • Obat-obatan

Obat-obatan seringkali mempengaruhi tidur.  Mengantuk dan deprivasi tidur adalah efek samping dari medikasi yang umum.  Medikasi antidepresi, inhibitor monoamine oksidase (MAOI), dan litium yang lazim digunakan, semuanya menyebabkan penurunan dalam tidur REM.  Terapi elektrokonvulsif dan kokain juga menyebabkan penurunan tidur REM.  Obat-obatan neuroleptik dapat meningkatkan rasa kantuk dan tidur REM. Namun,dosis klorpomazin yang tinggi menekan REM.  Benzodiazepin menyebabkan penurunan pada stadium I, III dan IV, peningkatan pada stadium II, dan peningkatan pada kelatenan REM serta penurunan pada tidur REM.

Obat-obatan dan pengaruhnya terhadap tidur
Hipnotik
  • Mengganggu dengan mencapai tahap tidur yang lebih dalam
  • Memberikan peningkatan kualitas tidur sementara (1 minggu)
  • Seringkali menyebabkan rasa ‘mengambang’ sepanjang siang hari, perasaan mengantuk yang berlebihan, bingung dan penurunan energi
  • Memperburuk apnea tidur pada lansia
Diuretik
  • Menyebabkan nokturia
Antidepresan dan stimulan
  • Menekan tidur REM
  • Menurunkan total waktu tidur
Alkohol
  • Mempercepat mulanya tidur
  • Mengganggu tidur REM
  • Membangunkan seseorang pada malam hari dan menyebabkan kesulitan untuk kembali tertidur
Kafein
  • Mencegah seseorang tertidur
  • Dapat menyebabkan seseorang terbangun di malam hari
Penyekat beta
  • Menyebabkan mimpi buruk
  • Menyebabkan insomnia
  • Menyebabkan orang terbangun dari tidur
Benzodiazepin
  • Meningkatkan waktu tidur
  • Meningkatkan kantuk di siang hari
Narkotika (Morfin/Demerol)
  • Menekan tidur REM
  • Menyebabkan peningkatan perasaan kantuk pada siang
  • Gaya hidup

Rutinitas harian seseorang mempengaruhi pola tidur.  Individu dengan waktu kerja yang tidak  sama setiap harinya seringkali mempunyai kesulitan menyesuaikan perubahan jadwl tidur.  Kesulitan mempertahankan kesadaran selama waktu kerja menyebabkan penurunan kualitas kerja.  Perubahan lain yang mengganggu pola tidur meliputi kerja berat yang tidak biasanya, terlibat dalam aktivitas sosial pada larut malam, dan perubahan waktu makan malam.

  • Stres emosional

Kecemasan tentang masalah pribadi atau situasi dapat mengganggu tidur.  Stres emosional menyebabkan seseorang menjadi tegang dan seringkali mengarah pada frustasi apabila tidak tidur.  Stres juga menyebabkan seseorang mencoba terlalu keras untuk tertidur, sering terbangun selama siklus tidur, atau terlalu banyak tidur.  Stres yang berlanjut dapat menyebabkan kebiasaan tidur yang buruk.

  • Lingkungan

Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh penting pada kemampuan untuk tertidur dan tetap tertidur.  Ventilasi yang baik adalah esensial untuk tidur yang tenang.  Ukuran, kekerasan dan posisi tempat tidur mempengaruhi kualitas tidur.  Jika seseorang biasanya tidur dengan individu lain, maka tidur sendiri menyebabkan ia terjaga.

Suara juga mempengaruhi tidur.  Tingkat suara yang diperlukan untuk membangunkan orang tergantung pada tahap tidur.  Suara yang rendah lebih sering membangunkan seseorang dari tidur tahap I, sementara suara yang keras membangunkan orang pada tahap III atau IV.  Beberapa orang menyukai suara sebagai latar belakang seperti musik lembut atau televisi, sementara yang lain membutuhkan ketenangan untuk tidur.

Tingkat cahaya dapat mempengaruhi kemampuan untuk tidur.  Beberapa klien menyukai ruangan yang gelap, sementara yang lain menyukai cahaya remang yang tetap menyala selama tidur.

  • Aktivitas fisik dan kelelahan

Seseorang yang kelelahan menengah (moderate) biasanya memperoleh tidur yang mengistirahatkan, khususnya jika kelelahan adalah hasil dari kerja atau aktivitas yang menyenangkan.  Aktivitas  2 jam atau lebih sebelum waktu tidur membuat tubuh berada pada keadaan kelelahan yang meningkatkan relaksasi.  Akan tetapi, kelelahan berlebihan yang dihasilkan dari kerja yang meletihkan atau penuh stress membuat sulit tidur.

  • Asupan makanan dan kalori

Makan dalam porsi besar, berat dan atau berbumbu pada makan malam menyebabkan tidak dapat dicerna yang mengganggu tidur.  Kafein dan alkohol yang dikonsumsi pada malam hari mempunyai efek insomnia.

  • Usia

Durasi dan kualitas tidur beragam diantara orang-orang dari semua kelompok usia.

  1. Neonatus

Neonatus sampai usia 3 bulan rata-rata tidur sekitar 16 jam sehari. Stimulus lapar, nyeri, dingin atau yang lain seringkali menyebabkan tangisan.  Pada minggu pertama, bayi baru lahir tidur dengan konstan.  Kira-kira 50% dari tidur ini adalah tidur REM, yang menstmulasi pusat otak tertinggi.

2.Bayi

    Pada umumnya, bayi mengalami pola tidur malam hari pada usia 3 bulan.  Bayi tertidur beberapa kali pada siang hari tetapi biasanya tidur 8 sampai 10 jam pada malam hari.  Sekitar 30% dari waktu tidur dihabiskan dalam tidur REM.

    3.Todler

      Pada usia 2 tahun, anak-anak biasanya tidur sepanjang malam dan tidur siang setiap hari.  Total tidur rata-rata 12 jam sehari.  Tidur siang dapat menghilang pada usia 3 tahun.  Hal yang umum bagi toddler terbangun pada malam hari.  Persentase tidur REM menurun.  Selama periode ini toddler tidak ingin tidur pada malam hari.  Ketidakinginan ini dapat berhubungan dengan kebutuhan untuk otonomi atau perpisahan. Todler mempunyai kebutuhan untuk mengeksplorasi dan memuaskan keingintahuannya, yang dapat menjelaskan mengapa beberapa dari mereka mencoba untuk menunda waktu tidur.

      4.Pra-sekolah

        Rata-rata tidur anak usia pra-sekolah sekitar 12 jam semalam (sekitar 20% adalah REM)

        About these ads

        Tinggalkan Balasan

        Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

        WordPress.com Logo

        You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

        Twitter picture

        You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

        Facebook photo

        You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

        Google+ photo

        You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

        Connecting to %s